Cherreads

Chapter 13 - BAB 13 - Jam Delapan Pagi

Tower B-7 di pagi hari terlihat berbeda dari malam.

Bukan secara fisik — struktur monolitik hitam itu tidak berubah antara gelap dan terang. Tapi ada sesuatu tentang cahaya pagi yang menolak bersikap sopan terhadap tower, memantul dari permukaannya dengan cara yang aneh, membuat bayangan jatuh ke arah yang tidak sepenuhnya konsisten dengan posisi matahari.

Hyun-woo tiba pukul tujuh lima puluh.

Ha-eun sudah ada — berdiri di sisi barat perimeter, mengenakan pakaian yang di mata orang biasa terlihat seperti hanbok modern yang dimodifikasi untuk mobilitas, tapi yang Hyun-woo kenali sebagai pakaian kultivasi tingkat tinggi dengan lapisan pelindung jiwa yang terjalin dalam seratnya. Di pinggangnya tidak ada senjata yang terlihat.

Kultivator yang tidak membawa senjata terlihat karena tidak membutuhkannya atau karena senjata mereka adalah diri mereka sendiri.

Untuk Ha-eun, jawabannya adalah yang kedua.

"Kamu tepat waktu," kata Ha-eun.

"Kamu lebih awal."

"Peramal selalu lebih awal. Kami melihat ke mana waktu bergerak." Nada yang terlalu datar untuk jadi lelucon tapi terlalu ringan untuk jadi serius. "Dua orang lagi datang."

"Kamu sudah tahu?"

"Aku melihat empat orang masuk tower hari ini. Kemarin malam."

Hyun-woo memproses ini. "Kamu setuju dengan kondisi ini?"

"Aku tidak keberatan," koreksi Ha-eun. "Beda tipis tapi ada."

Jun-hee dan Yeon-ji tiba pukul delapan kurang dua menit. Jun-hee dalam armor ringan berwarna putih yang berbeda dari yang ia pakai dua hari lalu — lebih tipis, lebih mobile. Yeon-ji mengenakan jaket guild dengan tambahan kantong-kantong peralatan yang tidak ada dua hari lalu.

Keduanya melihat Ha-eun dan melakukan apa yang kebanyakan orang lakukan ketika pertama kali melihat Ha-eun: mengevaluasi apakah perempuan tua yang terlihat berusia enam puluh ini benar-benar akan masuk tower bersama mereka, lalu merasakan sesuatu yang keluar dari Ha-eun yang membuat evaluasi itu langsung terasa seperti pertanyaan yang sangat bodoh.

"Seol Ha-eun," kata Ha-eun. "Rekan Hyun-woo."

"Seo Jun-hee."

"Cha Yeon-ji."

"Baik." Ha-eun berpaling ke tower. "Kita masuk."

Lantai satu hingga delapan mereka lewati dengan cepat.

Ha-eun bergerak dengan cara yang membuat Hyun-woo merevisi beberapa asumsinya tentang kecepatan kultivator usia lanjut — ia tidak berlari, tapi langkahnya mengandung efisiensi yang terakumulasi dari tiga abad bergerak, yang hasilnya adalah kecepatan yang tidak terlihat seperti kecepatan tapi secara konsisten ada di depan.

Jun-hee memperhatikan ini tanpa komentar.

Yeon-ji memperhatikan ini dengan komentar yang ia tahan di dalam pikirannya karena ekspresi Ha-eun tidak mengundang komentar.

Di lantai sembilan, Ha-eun berhenti.

Bukan karena ancaman — tapi karena ia menutup matanya selama beberapa detik dengan cara yang Hyun-woo kenali sebagai teknik membaca energi versi Clan Seol. Berbeda dari caranya sendiri — lebih pasif, lebih seperti mendengarkan daripada memindai.

"Ada perubahan sejak dua hari lalu," kata Ha-eun tanpa membuka mata. "Energi di lantai ini lebih terstruktur. Sesuatu di atas sedang... mengorganisir."

"Mengorganisir apa?" tanya Jun-hee.

"Belum bisa bilang." Ha-eun membuka matanya. "Naik."

Lantai sepuluh. Sebelas. Dua belas.

Di lantai dua belas, mereka menemukan sesuatu yang tidak ada dua hari lalu.

Simbol.

Diukir di dinding batu — atau lebih tepatnya, dibakar ke dalam batu dengan sesuatu yang lebih panas dari api biasa. Simbol itu tidak dalam bahasa apapun yang Hyun-woo kenali dari catatan aliansi, tapi ada sesuatu dalam geometrinya yang terasa familiar dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.

Ha-eun berhenti di depannya.

Menatapnya selama cukup lama sampai Yeon-ji mulai tidak nyaman dengan keheningannya.

"Ha-eun-ssi?" tanya Yeon-ji pelan.

"Ini bukan untuk manusia," kata Ha-eun akhirnya. "Ini pesan. Tapi bukan untuk kita."

"Untuk siapa?" tanya Hyun-woo.

Ha-eun berpaling dari simbol dan menatap Hyun-woo dengan ekspresi yang ia belum pernah lihat dari perempuan tiga ratus tahun itu sebelumnya.

"Untuk kamu," katanya.

Keheningan.

"Aku tidak bisa membaca ini," kata Hyun-woo.

"Belum," koreksi Ha-eun. "Tapi itu dibuat untukmu. Geometrinya beresonansi dengan jiwa spiritual — spesifik untuk jiwa spiritual yang belum sepenuhnya terbentuk tapi sudah cukup terasa untuk diidentifikasi." Ia berhenti sebentar. "Sesuatu di atas sudah mengidentifikasimu dua hari lalu. Dan meninggalkan ini sebagai respons."

"Respons berupa pesan yang tidak bisa dibaca oleh yang dituju," kata Hyun-woo.

"Untuk sekarang."

Jun-hee yang sudah diam selama percakapan ini berbicara dengan nada yang sudah melewati terkejut dan mendarat di wilayah yang lebih dingin dan lebih hati-hati. "Kita masih naik?"

Hyun-woo menatap simbol itu satu kali lagi.

Lalu ke Ha-eun. Yang mengangguk.

"Naik," katanya.

Bersambung.....

More Chapters