Keheningan itu… tidak alami.
Bukan karena tidak ada suara.
Melainkan karena semua yang ada di ruangan itu… sedang menahan sesuatu.
Empat orang berdiri di depan Garuda.
Tidak berbicara.
Tidak bergerak.
Hanya melihat.
Dan di dalam armor—
Arka merasakan tekanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bukan tekanan fisik.
Bukan juga rasa takut yang biasa.
Tapi sesuatu yang lebih dalam…
seperti ada yang menatap balik.
“Kenapa rasanya… beda…”
suara Arka terdengar pelan di dalam helmnya.
Cahaya biru dari sistem Garuda memantul di visor.
Grafik sinkronisasi masih stabil.
Seratus persen.
Namun indikator kecil di sudut layar—
terus berkedip.
Seperti jantung kedua.
AI GARUDA“Anomali terdeteksi.”
Arka menelan ludah.
“Anomali apa lagi…”
Namun tidak ada jawaban lanjutan.
Dan justru itu yang membuatnya semakin tidak nyaman.
Di luar—
pria yang berdiri paling depan akhirnya bergerak.
Hanya satu langkah.
Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa menyempit.
“Lebih cepat dari yang kami perkirakan.”
Suaranya datar.
Tidak ada emosi.
Namun setiap kata terasa seperti hasil perhitungan.
Arka mengepalkan tangan.
“Kalau kalian sudah selesai lihat-lihat…”
“keluar.”
Tidak ada teriakan.
Tidak ada ancaman.
Namun ada sesuatu dalam suaranya—
yang berbeda dari dirinya yang dulu.
Pria itu tidak tersinggung.
Ia justru tersenyum tipis.
“Menarik.”
Di ruang kontrol atas—
Yuri langsung menegang.
“Mereka tidak bereaksi…”
“Karena mereka tidak datang untuk bereaksi,” jawab Profesor Arief pelan.
“Mereka datang untuk memastikan.”
Doni tidak berkata apa-apa.
Tangannya masih di atas keyboard.
Namun kali ini ia tidak mengetik.
Ia hanya melihat.
Lebih dalam.
Lebih tajam.
Sementara itu—
di bawah—
pria itu kembali berbicara.
“Ini bukan sistem biasa.”
Ia menatap Garuda.
“Ini… adaptif.”
Arka langsung menyadari sesuatu.
“Mereka ngerti…”
“Bukan ngerti,” suara Doni terdengar melalui sistem komunikasi.
“mereka membaca.”
Sunyi.
“Dan yang mereka baca…”
Doni melanjutkan.
“…bukan mesin.”
“…tapi kamu.”
Arka membeku.
Untuk pertama kalinya—
ia benar-benar merasa telanjang di dalam armor itu.
“Oxford University.”
Satu kalimat itu jatuh begitu saja.
Ringan.
Namun dampaknya—
tidak ringan sama sekali.
Di ruang kontrol—
Yuri langsung menoleh.
Profesor Arief tidak bergerak.
Namun matanya menyipit.
Doni akhirnya mengangkat wajahnya.
Sudah lama…
tidak ada yang menyebut masa lalunya secara langsung.
“Sudah lama tidak ada yang berani menyebut itu,” katanya pelan.
Pria di bawah tidak menjawab langsung.
Ia hanya menatap kamera.
Seolah tahu persis—
siapa yang ada di balik layar.
“Kami tidak mencari data.”
“Data itu mudah.”
Ia berhenti sejenak.
“Kami mencari… relevansi.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya—
suasana benar-benar berubah.
Arka tidak sepenuhnya mengerti.
Namun ia bisa merasakan—
percakapan ini bukan sekadar pertukaran kata.
Ini…
adalah duel.
“Kalau kalian datang untuk menilai saya…”
Doni akhirnya menjawab.
Nada suaranya tetap tenang.
Namun ada sesuatu yang lebih dingin di dalamnya.
“…kalian datang terlambat.”
Senyum pria itu melebar sedikit.
“Tidak.”
“Kami datang… tepat waktu.”
Tiba-tiba—
layar Garuda berkedip.
Grafik naik.
Turun.
Lalu naik lagi.
Arka langsung menegang.
“Ini kenapa lagi?!”
AI GARUDA“Sinkronisasi tidak stabil.”
“Tidak stabil?!” Arka hampir berteriak.
“Barusan normal!”
Namun di ruang kontrol—
Yuri sudah melihat sesuatu.
Dan kali ini…
lebih jelas.
“Dua sinyal…”
Ia memperbesar tampilan.
Satu garis stabil.
Dan satu lagi—
tidak.
Bergerak.
Berdenyut.
Seperti…
hidup.
Doni melihatnya.
Tanpa berkedip.
“…dia.”
Satu kata.
Namun cukup.
Profesor Arief langsung mengerti.
“Bukan Arka.”
“…Julio.”
Sunyi.
Di bawah—
pria itu juga melihat hal yang sama.
“Jadi benar…”
Ia menatap Garuda lebih dalam.
“Bukan satu.”
“…tapi dua.”
Arka menahan napas.
“Jangan bilang…”
Namun kalimatnya terpotong.
Karena tiba-tiba—
ia merasakan sesuatu.
Bukan dari luar.
Dari dalam.
Seperti ada sesuatu yang mencoba…
menyentuh.
“Ini… apa…”
AI GARUDA“Resonansi sekunder meningkat.”
“Berhenti!” Arka langsung berkata.
“Matikan!”
AI GARUDA“Perintah ditolak.”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya—
Garuda menolak.
Di ruang kontrol—
Yuri membeku.
“Dia… nolak perintah?!”
Mayjen Okta maju satu langkah.
“Ambil alih.”
Namun Doni tidak bergerak.
Ia hanya melihat layar.
Lebih dalam.
“Jangan.”
Semua menoleh.
“Kalau kita paksa…”
Doni melanjutkan pelan.
“…kita kehilangan kontrol sepenuhnya.”
Sunyi.
Di bawah—
pria itu akhirnya berhenti bergerak.
Ia melihat Arka.
Lebih tepatnya—
ia melihat sesuatu di dalam Garuda.
“Dia merespon.”
“Bukan ke kita.”
“…ke yang lain.”
Arka langsung menatap visor.
“Yang lain… maksudnya…”
Namun jawabannya sudah ada.
Di layar.
Sinyal kedua—
tiba-tiba menyala lebih terang.
Dan untuk pertama kalinya—
lokasinya muncul.
Namun bukan di Gedung PELNI.
Bukan di ruang ini.
Bukan di bawah tanah.
Doni langsung menegang.
“…itu bukan di sini.”
Yuri menatap layar.
“Lalu di mana?”
Sunyi.
Tidak ada yang menjawab.
Namun satu hal jelas—
Sinyal itu…
aktif.
Dan semakin kuat.
Di bawah—
pria itu tersenyum tipis.
“Menarik.”
“Kami tidak perlu mengambilnya.”
Ia menatap Garuda.
“…karena sistem itu sendiri akan menemukannya.”
Sunyi.
Arka merasa dingin.
Untuk pertama kalinya—
ia benar-benar takut.
Bukan untuk dirinya.
Tapi untuk seseorang yang bahkan tidak ada di ruangan itu.
Julio.
LAST LINE
Dan di tempat lain…
tanpa ada yang menyadari—
sesuatu sedang bangun.
