Cherreads

Chapter 3 - empat kekalahan satu tekat

Malam pun tiba.

Langit gelap dipenuhi bintang, sementara suasana kota mulai lebih tenang dibanding siang hari.

Di kamarnya, Zero sedang berbaring santai sambil memainkan HP-nya.

Tak lama kemudian, ia langsung menelpon Javier.

Beberapa detik berlalu sebelum panggilannya diangkat.

"Lu ikut gak kita pergi malam ini?" tanya Zero santai.

Suara Javier terdengar sedikit lelah.

"Aku ikut kok."

"Dimana kita ketemu?"

Zero tersenyum kecil.

"Santai. Aku yang jemput."

Di seberang sana, Javier menghela napas pelan.

"Oke lah…"

---

Sementara itu, di belakang rumah Javier…

suasana jauh berbeda.

Tubuh Javier dipenuhi keringat setelah latihan yang cukup lama.

Di tangannya terdapat sebuah katana kayu yang sudah sedikit usang karena sering dipakai.

Napasnya berat.

Namun matanya masih fokus.

Ia berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya menurunkan katananya perlahan.

"Haaah…"

Javier duduk di dekat tembok belakang rumah sambil mengusap keringat di lehernya.

Di sampingnya terletak katana miliknya.

Ia mengambil kain kecil dan mulai membersihkan pedangnya perlahan.

Angin malam berhembus pelan.

Javier mendongak menatap langit penuh bintang.

Pikirannya mulai melayang.

"Latihanku… masih kurang…"

Tangannya berhenti sejenak.

"Setiap hari aku latihan…"

"Tapi kekuatanku naiknya sedikit."

Ia menatap pantulan wajahnya samar di bilah katana.

Lalu tanpa sadar, ia teringat seseorang.

Zero.

Javier mendecak pelan.

"Orang itu terlalu kuat…"

Bukan hanya soal bertarung.

Tapi juga keberanian, refleks, dan cara bergerak.

Seolah tubuh Zero selalu bergerak tanpa ragu.

Sementara Javier…

masih merasa dirinya tertinggal.

Ia menggenggam gagang katana lebih erat.

"Aku harus lebih kuat…"

Tiba-tiba—

Bzzzt! Bzzzt!

HP Javier bergetar.

Ia langsung melihat layar.

Zero menelepon.

Javier mengangkat panggilannya.

"Ya?"

"Oi, Javier. Gue udah di belakang rumah lu."

Javier mengangkat alis sedikit.

"Cepat amat."

Zero langsung menjawab santai:

"Ya iyalah, gue kan pake motor ke sini, bego. Rumah kita jauh, kalau gue jalan kaki bisa besok baru nyampe."

Javier terdiam beberapa detik.

"…Iya juga lah."

Lalu terdengar tawa kecil dari Javier.

"Hehe."

Zero langsung menyeringai.

"Tuh kan, baru sadar."

Javier menghela napas kecil sambil membereskan peralatan latihannya.

"Sudah, ke sini cepat. Nanti malah lambat lu ke sini."

"Oke lah, gue ke elu."

Javier kemudian menyimpan katananya terlebih dahulu sebelum berjalan menuju tembok belakang rumah.

Begitu sampai—

ia langsung melihat Zero berdiri santai di bawah sambil memegang helm motornya.

Melihat Javier muncul di atas tembok, Zero langsung mengangkat tangannya dan memberikan jari tengah.

"Yo, sialan."

Javier membalas dengan wajah datar.

"Salam hangat."

Zero tertawa kecil.

"Ayo lompat. Kenapa malah diam aja?"

Namun Javier justru diam beberapa detik sambil menatap Zero.

Matanya memperhatikan tubuh Zero dari atas sampai bawah.

Seolah sedang mengukur sesuatu.

Melihat itu, Zero mengerutkan dahi.

"Kenapa?"

Javier tersadar.

"Hah? Enggak…"

Ia langsung memalingkan wajah.

"Aku cuma sedikit melamun."

Dan dengan satu gerakan ringan, Javier melompat turun dari tembok.

"Wih. Keren juga."

"Biasa aja."

Mereka berdua mulai berjalan menyusuri jalan malam yang lebih tenang dari biasanya.

Lampu jalan menerangi langkah mereka, sementara obrolan absurd mulai muncul seperti biasa.

"Eh, Javier," kata Zero santai.

"Kemarin gue ketemu preman sok jago."

"Hm?"

"Sebenernya gue males hajar mereka…"

"Tapi ada nenek di situ, jadi ya mau gimana lagi."

Javier menatap lurus ke depan sambil menjawab datar:

"Kenapa kau gak cium aja premannya supaya dia takut sama kau?"

Zero langsung berhenti berjalan.

"…"

Ia menatap Javier dengan ekspresi jijik.

"Kau pikir gue gay?"

"Aku gak bilang begitu."

"Lu jelas nyindir!"

Javier malah tersenyum kecil.

Melihat itu, Zero langsung menunjuknya.

"Tuh kan! Lu senyum!"

"Aku cuma bahagia melihat penderitaanmu."

"Rusak."

Mereka kembali berjalan sambil tertawa kecil.

Tak lama kemudian, mereka melewati sebuah toko konsol game yang masih buka.

Lampu neon di depannya menyala terang.

Mata Zero langsung berbinar.

"WOI."

Javier melirik.

"Hm?"

"Kita main bentar yuk."

Javier melihat ke arah toko itu.

"…Boleh juga."

Zero langsung menyeringai lebar.

"Gran Turismo 7?"

Javier mengangkat bahu santai.

"Ayo. Siapa takut."

---

Beberapa menit kemudian…

"HAHAHA!"

Suara Javier terdengar santai sambil memegang stik.

"Kalah lagi."

Zero langsung menatap layar dengan tidak percaya.

"Itu tadi gue belum serius!"

Javier tertawa kecil.

"Oke. Ulang."

Beberapa menit berlalu.

"HAHAHA!"

"Kalah lagi, Zero."

Zero langsung menunjuk layar.

"Itu tadi gue belum siap!"

"Alasan."

"Beneran!"

"Oke. Ulang lagi."

---

Beberapa ronde kemudian…

"HAHAHAHA!"

Javier kini sudah tertawa terang-terangan.

"Kalah lagi."

Zero mulai kesal sendiri.

"Itu tadi gue kurang fokus!"

"Fokus apaan? Mobilmu nabrak tembok lima kali."

"Itu strategi!"

"Strategi bunuh diri?"

"Diam!"

Sementara itu, beberapa anak di toko mulai memperhatikan mereka karena suara ribut mereka.

Namun dua manusia itu sama sekali tidak peduli.

"HAHAHA!"

"Empat kali kalah berturut-turut," ujar Javier santai.

Zero langsung berdiri sambil menunjuknya.

"Gue belum keluarin kekuatan penuh!"

"Game balapan pakai kekuatan penuh?"

"Diam!"

Javier kini benar-benar menikmati penderitaan Zero.

Sudut bibirnya naik tipis sambil melihat temannya mulai frustasi sendiri.

"Sudah, Zero," katanya sambil tertawa kecil.

"Kau sudah kalah empat kali."

"Tapi hati gue belum kalah."

"Itu karena otakmu belum sadar."

"Bangsat."

Javier bersandar santai sambil masih memegang stik.

"Capek gak sih cari alasan terus?"

Zero langsung duduk lagi.

"Satu kali lagi."

"Tidak."

"Satu."

"Tidak."

"Setengah?"

Javier menatapnya datar beberapa detik.

Lalu tertawa kecil lagi.

"Pulang sana. Latihan dulu."

Zero langsung mendecak.

"Main rumah-rumah dulu lah kau."

"Kau aja sendiri."

"Curang. Lu pasti latihan diam-diam."

Javier tersenyum tipis.

"Mungkin."

Zero langsung menunjuknya.

"NAH KAN!"

Namun Javier hanya tertawa kecil sambil berdiri dari kursinya.

"Sudah. Pulang."

Zero masih terlihat kesal karena kalah berkali-kali.

Tapi di balik itu…

ia tetap ikut tertawa.

---

Saat mereka hendak pergi keluar dari toko game, mereka berpapasan dengan seorang pemuda bertubuh tinggi dan atletis.

Tatapannya tajam. Langkahnya tenang.

Beberapa orang di sekitar langsung melirik hormat kepadanya.

Javier sedikit terkejut.

"Eh… itu Kaleo."

Zero melirik sekilas.

"Hm?"

Javier menatap Kaleo yang berjalan melewati mereka.

"Dia juara taekwondo sama karate."

"Dia bisa dua bela diri sekaligus."

Nada suara Javier terdengar kagum.

"Dia hebat banget."

Zero hanya memasukkan tangan ke saku.

"Terus?"

Javier menoleh ke arah Zero.

"Kalau kau lawan dia… mungkin kau bakal kalah."

Zero tertawa kecil.

"Iya iya, terserah kau aja."

Lalu ia melirik Javier sebentar.

"Tapi ingat satu hal."

"Hm?"

"Kekuatan itu bukan buat dibanggain."

Javier terdiam.

"Kekuatan itu buat lindungin orang yang lemah."

Beberapa detik Javier hanya diam mendengar kata-kata itu.

Lalu ia mengangguk kecil.

"Iya… aku ngerti."

Mereka kembali berjalan.

Namun saat melewati Kaleo…

Zero sempat meliriknya sebentar.

Tatapannya tenang.

Dalam pikirannya, ia berbicara sendiri.

> Dia mungkin cuma bisa bikin gue keluarin 10% kekuatan.

> Mana mungkin dia menang lawan gue.

Namun Zero hanya tersenyum kecil dan tetap berjalan santai.

Saat sadar Javier sudah jauh di depan—

ia langsung berteriak:

"WOI, JAVIER! TUNGGUIN GUE!"

Suara Javier terdengar dari depan.

"Makanya jangan lambat!"

"Bawel!"

---

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di belakang rumah Javier.

Zero terlihat menguap sambil menggaruk kepalanya.

"Udah sana naik. Gue ngantuk."

Javier menatap tembok rumahnya.

"Temboknya tinggi kalau dari luar sini."

Zero berjalan mendekat lalu menepuk pundaknya sendiri.

"Sini. Gue bantu naik."

Javier mengangkat alis.

"Yakin?"

"Yakin lah. Cepat. Gue udah ngantuk berat."

"Oke…"

Javier akhirnya menaiki pundak Zero perlahan.

Dan dengan bantuan itu, ia berhasil meraih atas tembok.

"Berat juga lu," gerutu Zero.

"Mulutmu."

Begitu Javier sudah duduk di atas tembok, Zero melangkah mundur sambil menguap lagi.

"Kalo gitu gue pulang. Dah, Javier."

"Besok sekolah."

Zero langsung tertawa kecil.

"Harusnya gue yang bilang gitu ke lu."

Javier menyipitkan mata.

"Kenapa?"

"Karena lu males sekolah."

"Diam."

Zero langsung mengangkat tangan dan memberikan jari tengah.

Javier membalas dengan ekspresi datar.

"Salam hangat."

"Bacot."

Zero pun pergi menaiki motornya sambil melambaikan tangan asal.

Sementara itu, Javier melompati tembok dari atas dan masuk kembali ke rumahnya.

Malam kembali sunyi.

Namun jauh di dalam hati Javier…

kata-kata Zero tadi masih teringat jelas.

> Kekuatan itu bukan buat dibanggain.

> Tapi buat melindungi yang lemah.

More Chapters