Bel sekolah berbunyi nyaring di seluruh area.
Teng! Teng! Teng!
Tanda jam pelajaran telah selesai.
Seperti biasa, murid-murid langsung berhamburan keluar kelas. Suasana sekolah kembali hidup dengan obrolan dan rencana pulang masing-masing.
Di antara keramaian itu, Zero dan Javier berjalan pulang bersama.
Langkah mereka santai, obrolan ringan mengalir seperti biasa.
"Javier," kata Zero sambil melirik.
"Kau ikut turnamen jam 9 malam nanti gak?"
Javier menggeleng pelan.
"Gak dulu."
"Kenapa? Padahal seru loh."
Javier memasukkan tangan ke saku.
"Aku lagi sibuk. Kau tahu sendiri… aku harus latihan."
Zero mengangkat alis.
"Latihan lagi?"
Javier mengangguk.
"Iya. Buat ningkatin… kekuatanku."
Zero menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas kecil.
"Yaudah. Kapan-kapan aja."
Javier mengangkat tangan kecil ke arah Zero.
"Kita janji. Nanti kita main bareng."
Ia mengulurkan jari kelingking.
Zero menatap sebentar, lalu ikut mengaitkan jari kelingkingnya.
"Oke. Tapi jangan terlalu paksain diri lu."
Javier mengangkat alis.
"Tumben khawatir."
Zero tersenyum santai.
"Ya iyalah. Rumah sakit mahal."
Javier langsung menatapnya datar.
"Kirain kau khawatir aku."
"Ya aku khawatir… dompetku," jawab Zero santai.
Javier mendecak.
"Mulutmu."
Mereka berdua tertawa kecil.
Beberapa langkah kemudian, mereka sampai di pertigaan jalan.
"Besok sekolah, jangan bolos," kata Javier.
Zero langsung tertawa kecil.
"Tenang aja, aku pasti masuk."
Javier menyipitkan mata.
"Seperti waktu SMP?"
Zero langsung berhenti.
"...Jangan dibahas."
Javier tersenyum tipis.
"Kau janji mau ke pantai, tapi malah berkelahi sama preman."
Zero mendecak.
"Ssst. Itu masa lalu. Biarkan."
Mereka saling menatap sebentar.
Lalu, seperti biasa—
Zero mengangkat tangannya dan memberikan jari tengah.
Javier membalas dengan ekspresi datar.
"Salam hangat."
Dan mereka pun berpisah.
Keesokan Pagi
Cahaya matahari sudah cukup tinggi saat Zero tiba-tiba terbangun.
Matanya terbuka lebar.
Ia langsung melihat jam.
"..."
"Jam 8.20?!"
Zero langsung melompat dari tempat tidur.
"Sial!"
Dengan gerakan panik, ia memakai seragam secepat mungkin.
"Kenapa harus hari kedua gue telat sih!"
Ia berlari keluar rumah tanpa sarapan.
Di jalan, ia masih menggerutu sendiri.
"Jam berapa sekarang—"
Ia meraba saku.
"HP gue mana?!"
Wajahnya langsung panik.
"Jangan bilang ketinggalan—"
Ia berhenti sebentar, membuka tasnya.
Dan di sana…
HP-nya ada.
Zero langsung menghela napas panjang.
"Ya ampun… panik sendiri gue."
Ia kembali berlari menuju sekolah.
Masalah di Jalan
Saat hampir sampai, langkah Zero tiba-tiba melambat.
Di depan, ia melihat keributan.
Seorang preman sedang menarik baju seorang nenek tua yang mendorong gerobak kecil.
"Hey, nenek! Kau nabrak mobilku!" bentak preman itu.
"Ganti rugi sekarang!"
Nenek itu terlihat gemetar.
"Saya… saya tidak punya uang sebanyak itu…"
"Ganti 50.000!" bentak preman.
"Kalau saya jual semua barang ini… paling cuma dapat sedikit…"
Zero melirik jam.
08.25
"...Sial. Lima menit lagi."
Ia menggertakkan gigi.
"Pergi aja…"
Namun saat ia hendak melangkah…
preman itu mengangkat tangan, hendak memukul.
Zero berhenti.
"..."
Ia menghela napas panjang.
"Yaudah."
Dalam satu langkah cepat—
BUK!
Pukulan Zero mendarat ke arah preman itu.
Preman itu terhuyung.
"Lo pikir mukul orang tua bikin lo keliatan hebat?" kata Zero dingin.
Ia melempar tasnya ke tanah.
Dua orang lain langsung maju.
"Serang dia!"
Namun Zero bergerak lebih cepat.
Ia menghindar, lalu melancarkan pukulan tepat sasaran.
Satu tumbang.
Yang lain mencoba menyerang, tapi ragu.
"Cepat!" bentak pemimpin mereka.
Dengan gemetar, mereka maju.
Namun dalam beberapa detik—
semuanya sudah jatuh.
Sunyi.
Preman yang tadi bangkit dengan susah payah menatap Zero.
"Oke… oke… aku bercanda. Aku gak jadi minta uang. Biarkan gue pergi."
Zero menatapnya dingin.
"Pergi boleh."
Preman itu langsung berdiri.
"Serius?"
"Iya."
Preman itu mulai mundur perlahan.
"Bagus. Gue ingat muka kau—"
Ia belum sempat selesai.
Krek!
Ia terjatuh sambil berteriak kesakitan.
Zero berdiri di belakangnya.
"Gue bilang pergi," ujar Zero pelan,
"tapi bukan dalam kondisi enak."
Preman itu mengerang kesakitan.
"Kenapa…?"
Zero menatapnya dingin.
"Kalau gue biarin lo sehat, lo bakal ulang lagi."
Ia berbalik.
"Anggap aja ini pelajaran."
Zero tidak menoleh lagi.
Setelah Itu
Ia menghampiri nenek itu.
Mengambil uang dari sakunya.
20.000 yen.
"Nek, ini buat makan."
Nenek itu terdiam, matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih… nak…"
Zero menggaruk kepalanya.
"Kalau ada masalah, bilang aja."
Nenek itu tersenyum sedih.
"Kalau anak saya masih hidup… mungkin dia seperti kamu."
Zero terdiam sejenak.
"Dia… sudah meninggal?"
"Iya… dua tahun lalu."
Zero menunduk sebentar.
"…Turut berduka, Nek."
Ia lalu tersenyum kecil.
"Jaga kesehatan ya."
"Terima kasih, nak…"
Zero langsung berlari lagi.
Terlambat Total
"Jam berapa sekarang—"
08.34
"Sial!"
Saat sampai di sekolah—
pagar sudah terkunci.
"...Gue telat."
Ia melihat sekeliling.
"Kiri aman… kanan aman…"
Ia menatap pagar.
"Yaudah."
Dengan satu lompatan—
Zero memanjat dan melompati pagar setinggi dua meter.
"Masuk."
Minta Bantuan Javier
Namun sekarang masalah baru muncul.
"Gimana masuk kelas tanpa dicurigai…"
Ia berpikir.
Lalu tersenyum.
"Javier."
Ia langsung mengirim pesan.
Di kelas, Javier sedang tertidur.
Tiba-tiba HP-nya berbunyi.
Ia membuka mata perlahan.
"...Siapa sih pagi-pagi…"
Ia membaca pesan.
Gue di belakang sekolah. Bantu.
Javier mendecak.
"Anjing."
Ia berdiri santai dan keluar kelas.
Di Belakang Sekolah
"Telat lagi?" tanya Javier.
Zero mengangkat bahu.
"Biasa."
"Masalah?"
"Sedikit."
Javier menghela napas.
"Yaudah, gue bantu."
Kembali ke Kelas
Mereka masuk bersama seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun beberapa murid memperhatikan.
"Kenapa mereka selalu ribut sih…"
"Zero itu aneh banget…"
Queen yang mendengar hanya diam.
Matanya mengarah ke mereka.
Obrolan Kecil
Saat duduk, Zero tiba-tiba berkata:
"Javier."
"Hm?"
"Kita kenal karena apa ya dulu?"
Javier berpikir sebentar.
"Gak jelas."
Zero tertawa kecil.
"Tapi sekarang dekat banget ya."
Javier menatap ke depan.
"Namanya juga hidup."
Ia melanjutkan pelan.
"Kita gak tahu masa depan. Jadi sebelum semuanya berubah…"
Zero menyambung dengan santai:
"…main aja dulu bareng."
Javier mengangguk kecil.
Bel berbunyi lagi.
Hari berlanjut seperti biasa.
Namun saat pulang—
Zero menoleh ke Javier.
"Malam ini ikut gak?"
Javier berpikir sebentar.
"…Yaudah. Ikut."
Zero tersenyum lebar.
"Gue jemput."
Javier mengangguk.
Dan mereka berjalan pulang bersama.
